Sabtu, 21 April 2012

Aku dan seragam putih abu-abuku


AKU DAN SERAGAM PUTIH ABU-ABUKU
Oleh : Andi Puji Lestari

Terdengar melodi indah menyentuh sukmaku, suara ayam berkokok dan tiupan angin yang seakan-akan menyapaku di pagi hari. Seketika Aku pun terbangun dari tidurku. “ Ayah ibu selamat pagi” sapaku.
Hari yang menggembirakan sekaligus menegangkan. Dengan syukur dan doa Aku menginjakkan kakiku di area sekolah yang baru, sekolah idamanku. Dengan senyum lebar dan sedikit perasaan gugup Aku tampil dengan seragam putih abu-abuku. Yah inilah awal perjuanganku, belajar dan belajar.
“indah” seseorang menyebutnya tepat di belakangku dengan lantunan suara yang merdu. Segera kupalingkan wajahku ke arah orang itu. “sekolah ini sungguh mengagumkan” ujar orang bersuara merdu itu lagi. Namanya Sam, dia siswa baru sama sepertiku.
Pelajaran pertamaku kumulai dengan basmalah. Sembari menunggu guru yang akan masuk, Aku menyempatkan diri untuk membaca novel yang ku beli tempo hari ditoko dekat rumahku. Dalam sekejap suasana yang tadinya rame berubah menjadi hening ketika sesosok wanita separuh baya dengan sentakkan kaki yang agak keras memasuki ruang kelasku. Pandangannya seolah-olah mempunyai energi yang amat kuat. Matanya seakan menghipnotisku dan teman-temanku. Semuanya diam, novel yang tadi kubaca pun terlepas dari genggamanku begitu saja. “sungguh berwibawa” Aku berkata dalam hati.
“Saya adalah wali kelas kalian sekarang sekaligus guru yang akan mengajarkan kalian bidang studi bahasa Indonesia”, ujar wanita separuh baya itu seraya memperkenalkan dirinya.
“Tugas pertama kalian adalah membuat cerpen dengan judul Aku dan Seragam Putih Abu-abuku, waktu kalian satu minggu. Buatlah karya sebaik dan semenarik mungkin karena tahun ini akan akan ada perlombaan menulis cerpen tingkat provinsi. Saya akan mengambil satu cerpen terbaik dari angkatan tahun ini untuk ikut diperlombakan mewakili sekolah kita”, Bu Elvira menjelaskan.
Setibanya dirumah Aku mulai mengerjakan tugas cerpen yang diberikan tadi. “Cerpen yang baik dan  menarik, hmm…?”,Aku berfikir sejenak sambil mengetuk-ngetuk kepalaku. Bagiku sekolah adalah prioritas utama. Aku tidak akan melewatkan kesempatan seperti ini tentunya. Jadi teringat kata-kata ayah. Beliau bilang kita harus belajar dengan sungguh-sungguh untuk mencapai apa yang kita inginkan, karena kesempatan hanya datang satu kali. Hal itu akan selalu melekat di hati dan fikiranku. Dulu, sekarang, dan masa yang akan datang JJ.
Rupanya ini sudah hari ke-5.  Tak kusangka hari berlalu begitu cepat, itu berarti waktunya tinggal sedikit lagi untuk menyelesaikan tugas cerpen ini. Hmm…Kukira hanya Aku saja yang begitu antusias, ternyata rata-rata siswa siswi kelas x juga terlihat sangat antusias untuk mengikuti kompetisi ini. Aku jadi harus lebih bekerja keras lagi dan lebih bersemangat, “semangat Puji, kamu pasti bisa”, Aku bekata dalam hati.
Tidak jauh dari tempatku berdiri kulihat Sam Nampak sedang gelisah. Lalu kulangkahkan kakiku menghampirinya dan berkata “ apapun yang hendak kau lakukan, lakukanlah dengan hati dan lakukanlah yang terbaik yang kau bisa”, tanpa kuduga kata-kata itu langsung terucap begitu saja olehku. Sam yang saat itu tertunduk, seketika mengangkat wajahnya dan menatapku dengan penuh rasa kasih dan haru. Kalimat yang tak kusangka sama sekalipun juga keluar dari mulutnya. Rasanya ingin menitihkan air mata tapi air mata haru saat Sam bilang Aku adalah teman terbaik yang ia miliki. Aku dapat merasakan ketulusan dalam kata-katanya itu. “Terimakasih Sam “, ucapku saat itu.
Hmm.. perasaan degdegan mulai menghampiri. Dalam hati bertanya “ mungkinkah cerpenku akan terpilih? Semoga saja kerja kerasku membuahkan hasil yang baik”. Hari ini semua cerpen telah dikumpulkan di meja guru, tinggal menunggu hasilnya saja.
Pengumuman cerpen yang terpilih pun tiba. Bergegas Aku langsung pergi melihatnya di mading. Biasanya jika ada pengumuman pasti akan ditempelkan di mading sekolah, jadi aku tahu aku harus pergi kemana jika ada hal seperti ini. Sekarang Aku sudah berdiri di depan mading dan ternyata bukan namaku yang terpammpang pada selembar kertas putih itu, melainkan Sam Anugrahwati. Ternyata karya Sam lah yang terpilih tahun ini. Aku sungguh kecewa karena belum bisa membanggakan orang tuaku , namun itu tak berangsur lama. Setidaknya Aku telah berusaha untuk menjadi yang terbaik. Aku yakin ini baru awal perjuanganku yang sesungguhnya.
Beberapa saat setelah pengumuman itu kuterima pesan singkat di ponselku. “Dari Sam ?”, ucapku heran saat mengetahui kalau pesan itu dari Sam.
Aku baru tau ternyata Sam bercita-cita ingin menjadi seorang penulis cerpen. Pantas saja cerpennya terpilih, ia sungguh berbakat. Namun keinginannya itu kurang mendapat dukungan dari Ayah Sam. Tak kusangka kalimat yang tempo hari kuucapkan memberikan motivasi besar untuknya. Sam hanya perlu membuktikan bahwa ia benar-benar bisa dan itupun terbukti hari ini.  Sam berhasil mengubah anggapan ayahnya tentang keinginannya itu.
Setelah jam pelajaran habis, Aku langsung bergegas pulang untuk mencium tangan kedua orang tuaku dan  memeluk mereka. “semoga aku dapat menjadi anak yang membanggakan buat Ayah dan Ibu”, ucapku dengan penuh senyum.
Hari ini Aku sungguh mendapatkan pelajaran yang besar sekaligus pelajaran tambahan. Pelajaran ini bukan matematika, fisika, kimia atau apapun itu tapi pelajaran ini buat hidupku kedepannya. Bahwa kegagalan bukanlah akhir namun awal dari kehidupan  dan jangan menyia-nyiakan kesempatan yang datang pada hidupmu karena belum tentu kesempatan itu akan datang lagi padamu.
KEEP SMILE :)
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar