AKU DAN SERAGAM PUTIH ABU-ABUKU
Oleh
: Andi Puji Lestari
Terdengar melodi indah
menyentuh sukmaku, suara ayam berkokok dan tiupan angin yang seakan-akan
menyapaku di pagi hari. Seketika Aku pun terbangun dari tidurku. “ Ayah ibu
selamat pagi” sapaku.
Hari yang
menggembirakan sekaligus menegangkan. Dengan syukur dan doa Aku menginjakkan
kakiku di area sekolah yang baru, sekolah idamanku. Dengan senyum lebar dan
sedikit perasaan gugup Aku tampil dengan seragam putih abu-abuku. Yah inilah
awal perjuanganku, belajar dan belajar.
“indah” seseorang
menyebutnya tepat di belakangku dengan lantunan suara yang merdu. Segera
kupalingkan wajahku ke arah orang itu. “sekolah ini sungguh mengagumkan” ujar
orang bersuara merdu itu lagi. Namanya Sam, dia siswa baru sama sepertiku.
Pelajaran pertamaku
kumulai dengan basmalah. Sembari menunggu guru yang akan masuk, Aku
menyempatkan diri untuk membaca novel yang ku beli tempo hari ditoko dekat
rumahku. Dalam sekejap suasana yang tadinya rame berubah menjadi hening ketika
sesosok wanita separuh baya dengan sentakkan kaki yang agak keras memasuki
ruang kelasku. Pandangannya seolah-olah mempunyai energi yang amat kuat.
Matanya seakan menghipnotisku dan teman-temanku. Semuanya diam, novel yang tadi
kubaca pun terlepas dari genggamanku begitu saja. “sungguh berwibawa” Aku
berkata dalam hati.
“Saya adalah wali kelas
kalian sekarang sekaligus guru yang akan mengajarkan kalian bidang studi bahasa
Indonesia”, ujar wanita separuh baya itu seraya memperkenalkan dirinya.
“Tugas pertama kalian
adalah membuat cerpen dengan judul Aku dan Seragam Putih Abu-abuku, waktu
kalian satu minggu. Buatlah karya sebaik dan semenarik mungkin karena tahun ini
akan akan ada perlombaan menulis cerpen tingkat provinsi. Saya akan mengambil
satu cerpen terbaik dari angkatan tahun ini untuk ikut diperlombakan mewakili
sekolah kita”, Bu Elvira menjelaskan.
Setibanya dirumah Aku
mulai mengerjakan tugas cerpen yang diberikan tadi. “Cerpen yang baik dan menarik, hmm…?”,Aku berfikir sejenak sambil
mengetuk-ngetuk kepalaku. Bagiku sekolah adalah prioritas utama. Aku tidak akan
melewatkan kesempatan seperti ini tentunya. Jadi teringat kata-kata ayah. Beliau
bilang kita harus belajar dengan sungguh-sungguh untuk mencapai apa yang kita
inginkan, karena kesempatan hanya datang satu kali. Hal itu akan selalu melekat
di hati dan fikiranku. Dulu, sekarang, dan masa yang akan datang JJ.
Rupanya ini sudah hari
ke-5. Tak kusangka hari berlalu begitu
cepat, itu berarti waktunya tinggal sedikit lagi untuk menyelesaikan tugas
cerpen ini. Hmm…Kukira hanya Aku saja yang begitu antusias, ternyata rata-rata
siswa siswi kelas x juga terlihat sangat antusias untuk mengikuti kompetisi
ini. Aku jadi harus lebih bekerja keras lagi dan lebih bersemangat, “semangat Puji,
kamu pasti bisa”, Aku bekata dalam hati.
Tidak jauh dari
tempatku berdiri kulihat Sam Nampak sedang gelisah. Lalu kulangkahkan kakiku
menghampirinya dan berkata “ apapun yang hendak kau lakukan, lakukanlah dengan
hati dan lakukanlah yang terbaik yang kau bisa”, tanpa kuduga kata-kata itu
langsung terucap begitu saja olehku. Sam yang saat itu tertunduk, seketika
mengangkat wajahnya dan menatapku dengan penuh rasa kasih dan haru. Kalimat yang
tak kusangka sama sekalipun juga keluar dari mulutnya. Rasanya ingin menitihkan
air mata tapi air mata haru saat Sam bilang Aku adalah teman terbaik yang ia
miliki. Aku dapat merasakan ketulusan dalam kata-katanya itu. “Terimakasih Sam “,
ucapku saat itu.
Hmm.. perasaan degdegan
mulai menghampiri. Dalam hati bertanya “ mungkinkah cerpenku akan terpilih? Semoga
saja kerja kerasku membuahkan hasil yang baik”. Hari ini semua cerpen telah
dikumpulkan di meja guru, tinggal menunggu hasilnya saja.
Pengumuman cerpen yang
terpilih pun tiba. Bergegas Aku langsung pergi melihatnya di mading. Biasanya jika
ada pengumuman pasti akan ditempelkan di mading sekolah, jadi aku tahu aku
harus pergi kemana jika ada hal seperti ini. Sekarang Aku sudah berdiri di
depan mading dan ternyata bukan namaku yang terpammpang pada selembar kertas
putih itu, melainkan Sam Anugrahwati. Ternyata karya Sam lah yang terpilih
tahun ini. Aku sungguh kecewa karena belum bisa membanggakan orang tuaku ,
namun itu tak berangsur lama. Setidaknya Aku telah berusaha untuk menjadi yang
terbaik. Aku yakin ini baru awal perjuanganku yang sesungguhnya.
Beberapa saat setelah
pengumuman itu kuterima pesan singkat di ponselku. “Dari Sam ?”, ucapku heran
saat mengetahui kalau pesan itu dari Sam.
Aku baru tau ternyata
Sam bercita-cita ingin menjadi seorang penulis cerpen. Pantas saja cerpennya
terpilih, ia sungguh berbakat. Namun keinginannya itu kurang mendapat dukungan
dari Ayah Sam. Tak kusangka kalimat yang tempo hari kuucapkan memberikan
motivasi besar untuknya. Sam hanya perlu membuktikan bahwa ia benar-benar bisa
dan itupun terbukti hari ini. Sam
berhasil mengubah anggapan ayahnya tentang keinginannya itu.
Setelah jam pelajaran
habis, Aku langsung bergegas pulang untuk mencium tangan kedua orang tuaku dan memeluk mereka. “semoga aku dapat menjadi anak
yang membanggakan buat Ayah dan Ibu”, ucapku dengan penuh senyum.
Hari ini Aku sungguh
mendapatkan pelajaran yang besar sekaligus pelajaran tambahan. Pelajaran ini
bukan matematika, fisika, kimia atau apapun itu tapi pelajaran ini buat hidupku
kedepannya. Bahwa kegagalan bukanlah
akhir namun awal dari kehidupan dan jangan menyia-nyiakan kesempatan yang
datang pada hidupmu karena belum tentu kesempatan itu akan datang lagi padamu.
KEEP SMILE :)